WELCOME

For everyone who love classical stories
from many centuries until millenium
with some great story-teller around the world
these is just some compilation of epic-stories
that I've read and loved so many times
... an everlasting stories and memories ...

Translate

Friday, December 7, 2012

Books "SINHÁ MOÇA” [ Part 2 ]




[ source ]

Books “SINHÁ MOÇA”
Judul Asli : SINHÁ MOÇA  : DAS GOLD DER FERREIRAS
Copyright © by Maria D. Pacheco Fernandes
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : A. Samsara
Desain Sampul : David
Total Page  : 744 hlm
Cetakan I : Maret 1991 ; 168 hlm ( Part III ) | Cetakan I : April 1991 ; 168 hlm ( Part IV )
[ Review in Indonesia ]

[ Part III : Harta Emas Keluarga Ferreira ]

Rodolfo Garcia Fontes akhirnya berhasil menyelamatkan dan melarikan Sinhá Moça dari sekapan sang ayah, dengan melakukan penipuan dibantu oleh Rafael dan budak setianya. Sang ibu, Dona Candida, memilih kebebasan putrinya daripada mengikuti kemauan ayahnya yang semakin aneh. Kedua pasangan ini memilih tinggal sementara di Quilombo – lahan sederhana persembunyian para budak pelarian. Sungguh ironis pernikahan keduanya berlangsung sangat sederhana, namun dihadiri dan dirayakan dengan khidmat oleh para manusia yang mencari kebebasan dirinya. Satu-satunya orang kulit putih selain mereka berdua, hanya ada Frei José – pastur Araruna yang telah memilih membela kebenaran daripada sembunyi di balik birokrasi dan tirani Baron Ferreira. Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan jauh demi menikahkan mereka berdua. 

Sementara itu Rafael yang berhasil lolos dari jeratan hukum yang sengaja dibuat oleh sang Baron, mengalami dilema untuk masalah pribadinya. Permasalahan awal hubungannya dengan Sinhá Moça telah selesai, dan ia memilih pria yang mampu memberikan cinta sebagaimana yang diinginkan oleh wanita itu. Kini Rafael harus menentukan bagaimana nasib hubungannya dengan Juliana – cucu Augusto, majikan dan pemilik surat kabar Suara Araruna. Setelah peristiwa perusakan yang dilakukakn oleh antek-antek Baron Ferreira di kediaman serta kantor mereka, kesehatan Augusto mulai menurun. Meski demikian semangatnya tetap membara, hanya satu hal yang menjadi sumber kekhawatiran dirinya, bagaimana masa depan cucu tersayang Juliana. Masa lalu kedua orang tua Juliana yang semula dirahasiakan akhirnya terkuak, bahwa Juliana hasil hubungan gelap sang ibu dengan pegawai Augusto, pria tampan berkulit hitam, yang melarikan diri ketika tahu putri majikannya hamil. Sang ibu memilih meninggalkan dunia dan meninggalkan bayinya pada sang ayah. Kini melihat Rafael dan Juliana, kilas balik bayangan peristiwa itu kembali membayang di benak Augusto. 



ki-ka : Sinha Moca (1986) | Sinha Moca (2006) [ source ]

Dengan kepergian putrinya serta berbagai isu seputar penikahannya di Quilombo, Baron Ferreira tetap menolak menerima kebenaran berita tersebut. Ia memilih bahwa jika memang ada pernikahan, maka hal itu tidak sah. Dan ia tetap memerintahkan penangkapan Rodolfo atas penculikan putrinya. Di sisi lain, kembalinya Rafael ke Araruna memperkuat keyakinan sang Baron bahwa ia adalah sang Topeng Hitam. Topeng Hitam telah memberi pelajaran para tuan tanah yang sewenang-wenang dan terbukti menyengsarakan para budaknya. Hanya tinggal satu tempat yang belum pernah didatangi, yaitu Fazenda Araruna milik Baron Ferreira. Sungguh sangat janggal ketika Topeng Hitam  hendak beraksi, Rodolfo dan Sinhá Moça justru kembali ke kota itu. Keduanya sependapat bahwa berhenti selamanya bukanlah alternatif bagi masa depan mereka. Dan kali ini ada 4 orang Topeng Hitam yang beraksi dalam pembebasan budak-budak di kediaman Baron Ferreira. Ketika semua sudah berjalan lancar, masing-masing pihak telah siap meninggalkan lahan itu, salah satu dari sosok Topeng Hitam berbalik kembali ke kediaman sang Baron, karena ia hendak menolong budak kesayangan yang mengasuhnya semenjak kanak-kanak. Dan di saat itulah Baron terbangun dan menembak dengan jitu sosok Topeng Hitam yang dibencinya. 

Betapa sangat terkejut diri Baron Ferreira mendapati sosok yang ia tembak adalah Sinhá Moça – putrinya sendiri. Dengan segala daya upaya dokter keluarga yang dipanggil, berusaha keras menyelamatkan nyawa Sinhá Moça dari luka tembak yang sangat parah. Kondisinya sangat kritis, hanya waktu dan keajaiban yang mampu menyelamatkannya. Sang baron bagai gila mendapati kenyataan itu. Namun sikap keras kepala kembali menyelimuti dirinya saat akhirnya sang putri berangsur-angsur pulih meski sangat lemah untuk dipindahkan. Maka Sinhá Moça harus kembali menetap di kediaman orang tuanya sambil menunggu tubuhnya kembali kuat. Yang ia rindukan adalah kehadiran Rodolfo – suaminya, tapi sang Baron telah memerintahkan untuk melarang keluarga Fontes memasuki rumahnya. Sungguh berat keadaan yang dialami Sinhá Moça, apalagi ketika ia menyadari dirinya telah berbadan dua.

Belum lama kejadian ini mengguncang baik keluarga Fontes maupun Ferreira, terjadi peristiwa lain yang aneh sekaligus merubah kehidupan mereka. Sang Baron yang menjemput Fulgencio dan Sebastiao, budaknya yang melarikan, justru ditembak di tengah perjalanan. Kebetulan Dr.Amorim sedang berkunjung memeriksa kondisi Sinhá Moça, hingga ia langsung dapat melakukan pertolongan pertama. Di tengah kondisinya yang sekarat, Baron Ferreira menyebutkan nama penembaknya : Rodolfo Fontes. Kegemparan kembali mengguncang para penghuni Araruna. Antara percaya dan tidak, sang Baron menunjuk sang penembak atau sang pembunuh saat beliau akhirnya tewas. Lalu bagaimana kelanjutan hubungan antara Rodolfo dan Sinhá Moça yang telah mengandung bayi mereka ??



[ source ]

[ Part IV : Api Keadilan ]

Ricardo Fontes, putra bungsu keluarga Fontes, adik kandung Rodolfo adalah pemuda tampan dan periang. Jika sang kakak selalu serius dan menggunakan akal dalam menghadapi segala sesuatu, maka Ricardo merupakan sosok pemimpi. Ia senang melamun, berimajinasi, membayang yang tidak-tidak. Lamunannya dulu sering kepada Ana Teixeira – putri Manoel Teixeira dan Dona Nina, yang dijodohkan dengan Rodolfo semenjak kecil sebagai tanda bals budi karena Dr. Fontes telah menyelamatkan nyawa Manoel. Ana di kenal sebagai Ana si Kerudung akibat ikrar yang dilakukan sang ibu, bahwa putrinya akan berkerudung hingga tiba saat ia menikah. Karena Rodolfo tidak berminat pada Ana yang belum pernah ditemuinya, dan saat itu ia sedang jatuh hati pada Sinhá Moça, maka hubungan kedua keluarga ini sempat renggang. Hingga Ricardo menawarkan diri mengambil alih tanggung jawab sang kakak. 

Ana yang ternyata sangat cantik, menjadi pujaan para pemuda di kota tersebut setelah ia melepas kerudungnya. Namun anehnya Ricardo yang kini menjadi tunangannya, justru menjauh dan bersikap aneh. Kedua belah pihak setuju bahwa tidak baik untuk menunda pernikahan putra-putri mereka. Ketika akhirnya Ricardo Fontes menikahi Ana Teixeira, tiada yang menduga apa sebenarnya di balik pernikahan itu. Yang jelas Ricardo semakin kurus dan lebih sering melamun dari biasanya. Ia tak mampu berkonsentrasi pada apa pun. Hanya Ana – sang istri yang tahu apa di balik lamunan suaminya. Sebuah imajinasi yang membuatnya marah, karena sang suami sepanjang waktu hanya membayangkan sedang bersama Dona Candida – istri Baron Ferreira, ibu Sinhá Moça yang tetap cantik di usianya sekarang. 

Di balik kemeriahan pesta pernikahan Ricardo dan Ana, terjadi pergolakan, terutama di pertanian Araruna. Bruno sang pengawas budak, mendapati dirinya diserang dan disiksa secara bergantian oleh para budak yang dibebaskan oleh Justino –pelarian budak yang juga membunuh Honorio demi Adelaide yang disukainya, namun wanita itu kemudian justru menikah dengan José Coutinho – pria kulit putih yang kehidupannya menajdi lebih berat setelah dibuang oleh ayahnya, tuan tanah Coutinho, yang sempat memohon Baron Ferreira untuk menjodohkan putrinya dengan putranya demi kepentingan bisnis. Salah seorang yang turut serta dalam pembantaian itu adalah Capitao do Mato – pemburu budak yang berkali-kali mengalami nasib berubah-ubah. Kedatangannya tidak lain untuk membalas dendam pada sang Baron, dan kini ia dalam keadaan sekarat akibat perkelahiannya dengan Bruno. Di luar dugaan, sang Baron yang dikabarkan mengalami kelumpuhan total akibat peristiwa penembakan yang nyaris merenggut nyawanya, mampu bangkit dan berdiri  serta menggiring para budak kembali ke pemukiman budak dibawah todongan senjata, sebelum ia memerintahkan agar tubuh Capitao do Mato dibuang hidup-hidup ke sungai yang dalam.



[ source ]

Dari semua kejadian yang menghebohkan itu, Dona Candida menjadi terbuka pikirannya. Ia mampu melihat siapa sebenarnya sosok pria yang menjadi suaminya selama bertahun-tahun. Maka ia mengambil tindakan tegas guna menyelamatkan putri serta calon cucunya. Namun bukan Baron Ferreira jika ia tak mampu mempermainkan pikiran serta perasaan orang-orang di sekelilingnya. Akibatnya justru muncul perjanjian aneh yang mengikat Sinhá Moça di kediamannya. Ia juga berhasil menundukkan Rodolfo agar mau menuruti kemauannya. Semua pihak terutama keluarganya cemas sekaligus curiga melihat perkembangan watak sang Baron. Ia terlihat ingin menguasai calon cucu yang belum lahir agar menjadi penerus kekayaan keluarga Ferreira. Kekayaan yang tersembunyi, berupa emas batangan ribuan yang disembunyikan di ruang rahasia bawah tanah. Dan rahasia ini mulai bocor pada kaum budak, terutama para orang-orang yang mendendam pada sang Baron. 

Menjelang akhir, ketamakan dan keserakahan bergulat dengan dendam kesumat selama bertahun-tahun. Kutukan Pai Josè yang kematiannya mengawali kisah ini, justru mengakhiri perjalanan hidup sosok yang penuh rahasia kelam. Dengan menggunakan tanggal 13 Mei 1888 – hari bersejarah saat Putri Isabel sang Wali Negara mengumumkan undang-undang yang menghapuskan sistem perbudakan di Brazilia. Kemerdekaan kaum kulit hitam disambut dengan meriah serta keharuan. Perjuangan para budak serta anggota abolisi telah memakan banyak korban untuk tercapainya undang-undang tersebut. Hingga menjelang akhir, penulis memberikan suatu penutup yang bukan hanya tragis tapi juga membuka mata masyarakat umum. Sebuah ending yang cukup dramatis dan menakjubkan. Tak heran jika kisah ini diangkat menjadi serial televisi, serta film bahkan mendapat tempat khusus bagi peminat sastra di Brazilia.




Tentang Penulis :
Maria Camila Dezonne Pacheco Fernandes, dilahirkan di Jau, Sao Paulo, pada tanggal 18 Desember 1904. Beliau adalah seorang penulis sekaligus jurnalis asal Brazil. Novelnya Sinhá Moça ( Sinha Girl ) yang terbit pada tahun 1949 menuai kesuksesan di kalangan pembaca, hingga akhirnya  diadaptasi menjadi film seri televisi pada tahun 1986 dan 2006 oleh Rede Globo. Beliau turut serta dalam pembuatan naskah serta skenario untuk adaptasi ini. Karya-karyanya yang lain turut menuai sukses dan beliau masih sempat membagi waktu dengan kegiatan jurnalisnya. Hingga kini Sinhá Moça dan dikategorikan sebagai karya sastra pilihan di Brazillia. Beliau meninggal pada tanggal 2 Maret 1998.  

Best Regards,


No comments :

Post a Comment